10 PASAR PERCONTOHAN Memperkuat Daya Saing Sekaligus Melestarikan Tradisi

10 Mei 2011 10:29:11, dibaca: 1435 kali

Oleh : simpdn

Tekad Kementerian Perdagangan untuk merevitalisasi pasar-pasar tradisional semakin membulat.  Tahun 2011 ini, 10 pasar akan dibesut menjadi Pasar Percontohan sebagai inspirasi dan motivasi bagi para pemerintah daerah untuk mereplikasikannya.

Tekad Kementerian Perdagangan untuk merevitalisasi pasar-pasar tradisional semakin membulat. Tahun 2011 ini, 10 pasar akan dibesut menjadi Pasar Percontohan sebagai inspirasi dan motivasi bagi para pemerintah daerah untuk mereplikasikannya.

HM Nurdin Abdullah, Bupati Bantaeng, Sulawesi Selatan, ter masuk salah satu pemimpin daerah yang menerima tantangan untuk me wujudkan visi dan tujuan pasar percontohan ini. Sebab, dari Rp 88 Milyar yang dialokasikan untuk pengembangan 10 pasar percontohan tahun ini, daerahnya mendapat hadiah utama berupa bantuan dana paling banyak, yaitu sebesar Rp 15 Milyar untuk mengembangkan Pasar Lambocca yang terletak di Desa Baruga, Kecamatan Pa`jukukang, Kabupaten Bantaeng. “Pasar Lambocca mendapat hadiah pertama, yaitu penerima dana paling tinggi dalam program ini, yaitu Rp 15 M. Semoga return (pengembalian)-nya nanti berhasil untuk benar-benar mengembangkan daerah ini,” ungkap Mendag, Mari Elka Pangestu, dalam sambutannya pada acara pencanangan Pasar Lambocca sebagai Pasar Percontohan, 18 Maret lalu. Nurdin pun mengakui, pengembangan pasar percontohan di daerahnya menjadi penyemangat terhadap pertumbuhan eko nomi. Bahkan, ia juga optimis, bahwa  perhatian Kemendag ini akan mewujudkan Bantaeng menjadi daerah pertumbuhan ekonomi baru di bagian selatan Sulawesi Selatan. Selain Pasar Lambocca, pada tahap pertama pelaksanaan program pasar percontohan ini ada 9 pasar lain yang juga akan dijadikan pasar percontohan. (Lihat Table). Menurut Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Ke men dag, Gunaryo, program 10 pasar percon tohan ini diupayakan kelar pada akhir 2011. Ia berharap, pembangunan dan pem binaan pengelolaan pasar percon tohan yang dilakukan untuk me wujudkan pasar tradisional rakyat yang bersih, aman dan nyaman dikunjungi ini bisa direplikasi di tempat-tempat lain. Ada beberapa alasan mendasar yang melatarbelakangi lahirnya pengembangan pasar percontohan sebagai bagian dari program revitalisasi pasar tradisional di berbagai daerah ini. Menurut Mendag, Mari Elka Pangestu, pasar sebagai sarana perdagangan memiliki fungsi yang strategis, tetapi hingga kini belum berhasil benar benar dikembangkan di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Jumlah pasar tradisional di Indonesia lebih dari 13.450 dengan jumlah pedagang berkisar 12.625.000 orang (APKASI, 2003). Puluhan juta rakyat Indonesia pun menyandarkan hidupnya kepada pasar tradisional. Fakta menunjukkan, pasar tradisional masih menjadi saluran utama penjualan produk-produk kebutuhan pokok yang dihasilkan oleh para pelaku ekonomi berskala menengah kecil serta mikro, yaitu para petani, nelayan, pengrajin dan industri kecil. Maka, hadirnya pasar percontohan ini diharapkan dapat menjadi stimulasi bagi pengembangan pasarpasar tradisional lainnya. “Kami berharap program ini didukung dan ditiru di seluruh Indonesia,” kata Mendag (8/4/2011).

MERAWAT TRADISI DAN NILAI- NILAI LUHUR BANGSA

Bagi masyarakat Indonesia, pasar tradisional bukan hanya sekedar tempat transaksi jual beli dan kegiatan ekonomi semata, tetapi juga banyak yang memiliki fungsi sosial dan budaya tersendiri sesuai dengan adat istiadat dan tradisi masing-masing daerah. Kenyataan itu sangat disadari dan menjadi pertimbangan khusus bagi Kemendag dalam program pengembangan pasar percontohan ini. Beberapa fungsi strategis itu pun coba disatupadukan dalam sebuah konsep yang terarah dan terpadu, sehingga kehadiran pasar percontohan dapat menjadi salah satu model langkah strategis untuk memacu laju pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat tanpa melupakan sisi-sisi sosial, budaya dan tradisi bangsa. “Berdasarkan beberapa kunjungan yang sudah dilakukan, setiap pasar di setiap daerah memiliki perbedaan tertentu yang terkait dengan daerah tempat mereka berada. Ini juga harus kita sadari di dalam melakukan revitalisasi pasar,” papar Mendag.

Pasar tradisional akan memiliki kekuatan yang sangat memikat dan daya saing yang tinggi bila ditata dan dikelola secara profesional oleh pedagang dan juga pihak pengelola pasar dengan tetap menonjolkan fitur-fi tur keunikan yang dimiliki masingmasing pasar.

 

Secara ekonomi, pengembangan beberapa pasar percontohan diharapkan dapat menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan transaksi perdagangan di pasar-pasar tersebut dan menjadikannya sebagai salah satu profi t center (sumber pendapatan) daerah setempat. Dengan begitu, kata Mendag, pasar tidak lagi menjadi sebagai sesuatu yang disubsidi oleh pemerintah, tetapi justru juga bisa menjadi profit center atau salah satu sumber potensial pendapatan daerah. “Saya ingin, nantinya “omset penjualan” akan menjadi salah satu nilai plus dengan adanya pasar percontohan. Jika pasar sudah di revitalisasi, maka Pendapatan Asli Daerah di daerah ini harus menjadi lebih baik,” tegas Mendag, Mari Elka Pangestu, dalam kunjungan kerjanya di Pasar Lambocca beberapa waktu lalu. Adapun dari segi sosial dan budaya, Kemendag tetap bersikukuh agar tradisi sosial dan budaya yang selama ini telah melekat pada setiap pasar tersebut tidak diabaikan. Mendag menegaskan, bahwa program ini merupakan bentuk komitmen dan keberpihakan Kementerian Perdagangan yang ingin menjadikan pasar Indonesia kembali ke fungsinya yang sudah berlaku sejak turun temurun, baik dalam segi ekonomi, maupun sosial dan budaya. “Pasar percontohan ini didedikasikan untuk rakyat, sehingga bisa berkembang untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan melestarikan nilai-nilai luhur bangsa,” tuturnya menjelaskan.

MENINGKATKAN DAYA SAING,  MENEPIS DIKOTOMI

Kumuh, becek dan menyeruakkan bau  tak sedap. Itulah citra pasar tradisional yang hendak dibenahi dengan program revitalisasi ini. Tujuannya, tak lain adalah agar pasar-pasar tradisional memiliki daya saing yang semakin kuat untuk berkompetisi dengan pasar-pasar modern dalam merayu hati para konsumen. Namun, hal itu tidak berarti harus dilakukan dengan menghilangkan unsur-unsur tradisi, adat istiadat dan budaya setempat. Begitulah yang disadari oleh Kemendag. Yakni, bahwa pasar-pasar tradisional akan memiliki kekuatan yang sangat memikat dan daya saing yang tinggi bila ditata dan dikelola secara profesional oleh pedagang dan juga pihak pengelola pasar dengan tetap menonjolkan fitur-fitur keunikan yang dimiliki masing-masing pasar. Walhasil, sebagai konsekuensianya, Kemendag pun mengarahkan pasar percontohan yang dikembangkan sebagai bagian dari rencana revitalisasi pasar-pasar ini pun pada penguatan nilai lebih masing-masing pasar dan tindakan nyata untuk menghilangkan sisi-sisi negativ yang sela ma ini memperburuk citra pasar-pasar tradisional. “Revitalisasi pasar tradisional sangat penting untuk menghilangkan dikotomi pasar modern dengan tradisional. Pasar tradisional harus dibenahi, baik fisik maupun pengelolaan manajemennya, “ demikian kata Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu, usai meninjau Pasar Grabag di Purworejo, Senin (28/3/2011) lalu.

HOLISTIK DAN BERKESINAMBUNGAN 

Tujuan dan maksud tersebut di atas tentunya tidak semudah membalikkan tangan. Maka, agar program pasar percon tohan ini sesuai dengan apa yang di ha rapkan dan benar-benar menjadi per contohan, Kementerian Perdagangan pun bergandengan tangan dengan kemen terian lain, seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian Pekerjaan Umum, Ke menterian Perhubungan, dan juga perbankan. “Kita juga akan mengajak instansi pemerintah lainnya yang memiliki program pengem bangan pasar-pasar di daerah untuk berkolaborasi,” papar Mendag. Hal itu, menurut Mendag, karena pe laksanaan program ini memerlukan pendekatan yang holistik (menyeluruh). Sebab, program ini tidak hanya memfokuskan pada aspek fi sik, tetapi juga prasarana, lo gistik, dan infrastruktur yang dapat menjadikan sebuah pasar bisa beroperasi dengan baik. Dari segi pembiayaan pun, pengembangan pasar percontohan tidak mungkin hanya mengandalkan dana dari APBN saja. “Idealnya, bagaimana kita mengelola pasar bersama-sama dalam anggaran APBN, APBD, dan sekaligus be ker jasama dengan BUMN, BUMD dan swasta,” ungkap Mendag. Selain dari dunia perbankan, peran Pemda dan masyarakat juga sangat dibutuhkan. “Kita meminta Pemerintah Daerah harus berkomitmen ketika daerahnya terpilih dalam pembangunan Pasar Percontohan. “Pemda harus sungguh-sungguh dalam melaksanakan dan menjalankan program yang telah ditetapkan Pemerintah Pusat,” ujar Dirjen PDN Kemendag, Gunaryo, di sela- ela kunjungannya ke beberapa pasar tradisional yang akan dijadikan pasar percontohan. Bahkan, Kemendag juga akan terus melakukan pendampingan, mulai dalam pengembangan konsep perencanaan, proses konstruksi pasarnya, hingga pemberdayaan pelaku pasar dan pengelolaannya. “Kita juga akan melibatkan LSM yang sudah berpengalaman dalam pemberdayaan komunitas-komunitas setempat,” ungkap Mendag. Demikianlah. Pengembangan pasar percontohan ini adalah sebagai inspi rasi dan sekaligus motivasi untuk senan tiasa terus meningkatkan standar penge lolaan pasar tradisional agar selalu memiliki nilai kompetitif di tengah-tengah tuntutan zaman yang serba dinamis dan progressif. (Amf/Mon/Agus/berbagai sumber)

Tags:

Album Foto

Artikel Terkait :