Perdagangan Antar Pulau; Menangkal Dampak Krisis Global, Memperkuat Pasar Lokal

File

25 September 2012 10:43:32, dibaca: 1129 kali

Oleh : noeltrg

Ekspor Indonesia ke pasar internasional mengalami perlambatan dan penurunan sebagai dampak dari krisis global. Kementerian Perdagangan akan mengoptimalkan jaringan perdagangan antar pulau untuk  mendorong pertumbuhan perdagangan dalam negeri. Peran aktif jajaran instansi terkait di daerah sangat dinanti.

Pertumbuhan ekonomi sepanjang triwulan pertama tahun 2012 ini hanya mencapai 6,3%, atau lebih lambat dari periode yang sama pada tahun sebelumnya yang berada di angka 6,5%.  Menurunnya nilai dan pergerakan ekspor dipandang sejumlah ahli dan instansi terkait sebagai salah satu pemicu terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi.  Betapa tidak, pertumbuhan ekspor pada triwulan I pertama tahun ini hanya menembus angka 7,8% atau lebih rendah dari pencapaian periode yang sama pada tahun lalu, di mana waktu bisa berada di level 12,3%.

Menyikapi kenyataan tersebut, Kementerian Perdagangan RI melihat bahwa langkah membangun jaringan antar pulau akan sangat efektif untuk mengimbangi penurunan ekspor dan mengantisipasi terjadinya ekspansi pasar negara-negara lain ke pasar dalam negeri kita. Hal itu diungkapkan oleh Wakil Menteri Perdagangan  Bayu Krisnamurthi pada acara konferensi pers di Jakarta, Selasa (8/5) lalu.

 “Saat ini pasar tujuan ekspor terbesar seperti Amerika dan Eropa mengalami perlambatan. Akhirnya negara-negara lain berbalik menggempur pangsa pasar Indonesia yang sangat potensial. Kondisi ini harus dijadikan momentum untuk memanfaatkan pasar dalam negeri,”  tandasnya.

Seperti diketahui, saat ini konsumsi dalam negeri memberikan kontribusi sebesar 60%  dari total Produk Domestik Bruto (PDB) nasional yang mencapai Rp8.600 triliun.  Mengacu kepada data ini, Kemendag tidak akan ragu untuk menggenjot perdagangan dalam negeri.  “Ini merupakan peluang untuk menutup perlambatan ekspor Indonesia ke pasar global.  Karena itu pula, Kementerian Perdagangan  tengah menggenjot pertumbuhan perdagangan di dalam negeri dengan mengoptimalisasi jaringan perdagangan antar pulau,”  kata Pak Bayu.

Terkait dengan itu, Wamendag mengharapkan peran aktif pemerintah daerah, yaitu dengan mencontoh terobosan-terobosan yang dilakukan oleh Pemda Jawa Timur (Jatim) dalam meningkatkan pasar dalam negeri. “Provinsi paling timur Pulau Jawa tersebut berhasil melakukan sinkronisasi lewat atase perdagangan yang ditempatkan pada setiap pulau di luar wilayah Jatim,” imbuhnya.

Menurut Wamendag, langkah membangun jaringan antar pulau dengan membentuk atase perdagangan tersebut cukup efektif. Paling tidak, dengan keberadaan atase tersebut sistem perdagangan antardaerah dapat terhubung secara optimal, sehingga peluang pemasaran berbagai komoditi unggulan dari satu daerah ke daerah lain bisa dimanfaatkan secara lebih optimal oleh masing-masing daerah.

Lebih dari itu, dengan terkoneksinya masing-masing atase tersebut, Wamendag yakin jaringan perdagangan dalam negeri akan semakin membaik dan bisa menjadi benteng pertahanan dari serbuan produk impor. "Kebutuhan dan produksi antardaerah bisa terpenuhi, dan tentunya ini akan mempersempit ruang gerak produk impor," imbuhnya.

Provinsi Jawa Timur telah memulai hal itu dan berhasil mengoptimalkan pemasaran produk unggulannya ke sejumlah daerah. "Mereka relatif cukup berhasil menciptakan pasar baru produk mereka. Kita berharap seluruh provinsi mengikuti langkah pemerintah Provinsi Jatim, bahkan kalau perlu hingga ke kabupaten/kota," tutur Wamendag penuh harap.

Dalam kacamata Wamendag, i `growth` konsumsi dalam negeri cukup positif dilihat dari PDB, yaitu sebesar 5% per tahun. Ini merupakan potensi pasar yang besar, apalagi bila dilihat dari jumlah penduduk Indonesia yang tak sedikit dan tingkat konsumsi mereka yang terbilang tinggi. “Potensi ini harus bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menjadikan produk dalam negeri sebagai tuan rumah di negeri sendiri,”kata Wamendag.

Peta Perdagangan Antar Pulau

Kita semua sepakat bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan.  Jumlahnya pun tak terkira; ada sekitar 17.000-an buah pulau di negeri i dengan luas daratan 1.922.570 km2 dan luas perairan 3.257.483 km2 ini. Kabar baiknya, masing-masing pulau pasti memiliki potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang beragam dan kadang berbeda satu dengan lainnya.

Nah, keragaman potensi antar daerah inilah yang sebenarnya menjadi basis dan modal penguatan pertumbuhan ekonomi dalam negeri melalui pengelolaan jaringan perdagangan antar daerah secara lebih profesional dan optimal.

Untuk mendapat gambaran lebih jelas soal potensi itu, ada baiknya kita kupas lihat sebentar potensi beberapa Pulau di Indonesia secara global. Pulau Jawa misalnya, dengan jumlah penduduk yang paling padat di Indonesia, wilayah ini telah menjadi sentra pemasaran yang sangat potensial.  Tingkat kepadatan dan pertumbuhan penduduk di pulau ini juga rentan menimbulkan terjadinya penyempitan  wilayah usaha produksi untuk agro. Secara alamiah, biasanya kegiatan agrobisnis pun akan berganti menjadi usaha produksi industri, seperti industri tekstil dan bahan pangan olahan. Pasalnya, industri-industri ini memerlukan wilayah usaha yang lebih sedikit dan efisien.

Sementara itu, di pulau lain, seperti Kalimantan, Sulawesi, Papua dan daerah lainnya di Indonesia memiliki jumlah penduduk yang relatif lebih sedikit. Artinya,  potensi pulau-pulau ini untuk difokuskan sebagai wilayah usaha produksi untuk usaha agro dengan skala besar masih sangat memungkinkan.  

Nah, perbedaan kondisi inilah yang  perlu dikelola secara optimal untuk mendorong terciptanya perdagangan antar daerah yang saling menguntungkan. Pasalnya, dengan kondisi tersebut daerah-daerah di pulau Jawa berpotensi mengirimkan produk industrinya ke wilayah pulau lain di Indonesia. Dan sebaliknya, daerah-daerah dari pulau lain bisa memasarkan produk-produk agro mereka ke Jawa.

Dari pernyataan Wamendag, terungkap bahwa Kementerian Perdagangan siap mendorong produk-produk lokal untuk dapat dipromosikan ke daerah lain. Namun, dorongan tersebut tak akan maksimal tanpa peran dan keberadaan atase perdagangan dalam negeri di daerah. Sebab,  pada dasarnya pemerintah daerah-lah yang paling mengetahui potensi komoditi dan kemampuan produksi masyarakatnya.

"Berdasarkan laporan yang saya terima, Sumut punya potensi 10 produk unggulan. Di antaranya, produk berbahan segar termasuk di dalamnya bahan pangan, pangan olahan, kuliner, jamu dan produk herbal, kosmetik, furniture, alas kaki dan alat rumah tangga, pakaian dan tekstil," papar Wamendag. "Tapi kan yang paling tahu kondisi produksi ke-10 produk itu itu adalah sdm lokal. Jadi kalau hanya mengandalkan Kementerian Perdagangan maupun pemerintah daerah, ya enggak bisa maksimal. Makanya kita butuh atase ini,” tegasnya.

Dan singkat cerita,  optimalisasi perdagangan antarpulau memang harus segera ditindaklanjuti dengan gerakan nyata dari seluruh daerah di Indonesia. Karena, selain bisa menjadi penangkal dampak negatif dari krisis Eropa,  perdagangan antarpulau juga bisa mencegah pelemahan ekonomi di dalam negeri dan mendorong tumbuhnya pasar domestik. (AMF)

Tags:

Album Foto