Kegiatan Sinkronisasi Program Perdagangan Dalam Negeri Tahun 2012

File

13 Agustus 2012 07:43:25, dibaca: 1064 kali

Oleh : DEO BERITA

Stabilisasi  harga dan penguatan pasar dalam negeri. Itulah strategi Kemendag RI untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2012.  Forum sinkronisasi Program PDN 2012 di Ambon pun menjadi wahana diskusi dan mencari solusi sejumlah tantangan dan peluang yang dihadapi.

85% komoditas bahan pokok warga Maluku berasal dari luar daerah atau dari luar pulau Maluku. Angka tersebut diungkapkan oleh Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu dalam sambutannya yang dibacakan oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Keuangan, Rafia Ambon, pada acara Sinkronisasi Program Perdagangan Dalam Negeri Tahun 2012 yang dihadiri oleh Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Gunaryo, di Hotel Aston, Ambon, Rabu (23/5) lalu

 

“Kondisi di atas cenderung menyebabkan tingkat kemahalan di Maluku menjadi tinggi dan sangat bervariasi. Perbedaan tersebut menjangkau banyak hal, bukan hanya pada harga barang kebutuhan pokok dan strategis saja, tetapi juga pada bahan atau material bangunan, jasa-jasa transportasi, jasa tenaga buruh dan lain sebagainya,” paparnya.

 

Berangkat dari kenyataan tersebut, gubernur mengharapkan agar rantai pendistribusian di sentra-sentra perdagangan di kabupaten/kota tetap terjaga agar tidak terjadi disparitas harga barang yang terlalu mencolok antar provinsi dengan kabupaten/kota, ataupun antar kabupaten/kota satu dengan yang lain.

 

Selain itu, dia juga mengharapkan adanya gudang penyimpanan di setiap daerah tersebut dalam rangka menjamin keamanan ketersediaan stock barang. Menurutnya, arus perdagangan lokal yang didominasi oleh perdagangan antar pulau, baik dalam skala menengah maupun skala kecil, dirasakan perlu mendapatkan penataan dan pembinaan secara lebih baik lagi. “Infrastruktur perhubungan masih menjadi faktor penting dalam rangka pengembangan perdagangan lokal di bumi Siwalima ini,” imbuhnya.

 

Masalah lain yang dikemukan oleh Gubernur Maluku adalah persoalan pasar tradisional di Maluku. Menurutnya, pasar tradisional yang ada banyak melibatkan golongan pedagang kecil atau eceran yang masuk pada kategori Usaha Kecil dan Menengah (UKM), sehingga perlu terus dibina, diberdayakan dan ditingkatkan kemampuannya.

 

Semua itu, kata gubernur, bisa dilakukan dengan memberi dukungan modal usaha, ataupun penguatan sumberdaya lainnya terkait dengan tata kelola administrasi keuangan serta pola produksi yang efisien dan efektif. “Dengan itu mereka akan tetap eksis sebagai pelaku usaha di daerah ini,” tandasnya.

 

Dan perlu digarisbawahi, bahwa tren munculnya pusat-pusat perbelanjaan dan pertokoan modern berupa mal juga sudah mewarnai Maluku. Hal ini menjadi persoalan yang tengah dihadapi dan perlu solusi, baik berupa kebijakan maupun langkah-langkah strategis agar kehadiran mal-mal itu hidup berdampingan dengan pasar-pasar tradisional yang sudah ada.

 

Persoalan-persoalan yang diutarakan oleh Gebernur Maluku itu banyak pula dirasakan oleh sejumlah daerah. Maka dari itu, Forum Sinkronisasi ini pun menjadi salah satu wahana yang sangat penting. Sebab, maksud dan tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah untuk mensinergikan berbagai program dan kebijakan bidang perdagangan dalam negeri kepada aparatur, khususnya  Satuan Kerja Perangkat Daerah SKPD yang membidangi perdagangan di seluruh Provinsi dan Kab/Kota.

 

Menurut Dirjen PDN, Gunaryo, melalui Kegiatan Sinkronisasi Program Perdagangan Dalam Negeri yang rutin dilakukan setiap tahun ini, diharapkan pemerintah daerah khususnya Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang membidangi perdagangan dapat mengimplementasikan kebijakan tersebut secara konsisten dan berkesinambungan guna mendukung sasaran dan target pembangunan nasional di bidang perdagangan dalam negeri.

 

“Melalui acara Kegiatan Sinkronisasi Program Perdagangan Dalam Negeri ini, marilah kita senantiasa menjalin kerjasama dan meningkatkan sinergi antar sektor, pusat-daerah, dan antar daerah dalam pembangunan nasional untuk memberikan sumbangsih yang berarti kepada bangsa, negara, dan masyarakat,” tutur Gunaryo dalam pengarahannya di depan peserta kegiatan.

Sebagai informasi, kegiatan sosialisasi yang berlangsung selama 3 hari (23 s/d 25 Mei 2011)  ini diiikuti oleh 77 orang yang terdiri dari Kepala Dinas dan Kepala Sub Dinas yang membidangi perdagangan di 33 Provinsi se Indonesia dan Kepala Dinas dan Kepala Sub Dinas yang membidangi perdagangan di Kab/Kota se wilayah Maluku.

 

Adapun yang hadir sebagai narasumber dan pembicara adalah; Para Pejabat Eselon II di Lingkungan Ditjen Perdagangan Dalam Negeri; Pejabat Eselon II dari Biro Perencanaan, Kementerian Perdagangan; Pejabat Eselon II dari Inspektorat Jenderal, Kementerian Perdagangan; dan Kepala  Pusat Pengkajian Logistik dan Rantai Pasok ITB. Ikut pula menghadiri acara tersebut Staf Ahli Bidang Pemberdayaan Usaha Dagang Mikro Kecil Dan Menengah Dan Promosi Ekspor, Kementerian  Perdagangan;

 

Stabilisasi Harga dan Penguatan Pasar Dalam Negeri

Dalam sambutan pengarahannya, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Gunaryo menyampaikan bahwa ekonomi Indonesia selama kuartal I tahun 2012 tumbuh sebesar 6, 3%,. “Pemerintah Indonesia berupaya terus menerapkan strategi dan kebijakan untuk mencapai target pertumbuhan 6,7% di dalam APBN-Perubahan tahun 2012,” paparnya. 

Menurut Gunaryo, salah satu strategi ekonomi yang akan ditempuh adalah melalui penguatan pasar dalam negeri.  Sebab, pasar domestik Indonesia sangat besar. Populasi Indonesia yang berjumlah lebih dari 242 juta orang merupakan pasar yang sangat potensial untuk produk dalam negeri. Disamping itu, total belanja rumah tangga penduduk Indonesia selama 2012 untuk barang konsumsi diprediksi bisa mencapai Rp 500 triliun. Hal ini diikuti dengan pertumbuhan penjualan di supermarket dan minimarket yang mencapai 19% per tahun.

“Konsumsi belanja rumah tangga yang begitu besar, menjadi kekuatan pasar dalam negeri.  Saat ini 65% pertumbuhan ekonomi Indonesia disumbang oleh konsumsi rumah tangga. Potensi inilah yang seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan penjualan produk dalam negeri di pasar domestik,” tandasnya.

Oleh karena itu, Sasaran Strategis Rencana Aksi Kementerian Perdagangan dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2012 akan di fokuskan pada strategi utama yakni “stabilisasi harga dan penguatan pasar dalam negeri“.  Sedangkan beberapa  target yang harus dicapai, sebagaimana disampaikan oleh Dirjen PDN Gunaryo adalah sebagai berikut: 1) 95% konsumsi rumah tangga nasional dipasok dari produksi dalam negeri dengan indikator Rasio Penggunaan Produk Dalam Negeri terhadap Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga di 2014; 2) Tercapainya stabilisasi harga bahan pangan utama dengan indikator utama yaitu Rata-rata koefisien variasi dari 10 komoditas pangan utama sebesar tidak lebih dari 7%; 3) Kontribusi sektor perdagangan meningkat dengan indikator Pertumbuhan PDB Riil tahunan pedagang besar dan eceran minimum 7%.

Dukungan dari Pemerintah Daerah

Sebagai upaya mengimplementasikan sasaran strategis tersebut, menurut Gunaryo ada 4 langkah langkah utama yang perlu dukungan dari pemerintah daerah. Keempat langkah itu adalah:

Pertama,  pemantauan pasar dan evaluasi perdagangan. Langkah ini bisa dilakukan melalui; pemantauan inflasi, pemantauan arus barang yang masuk dan keluar pasar/pedagang grosir; evaluasi permintaan pasar, pengamatan perubahan perilaku konsumen, pengamati perubahan jenis dan kualitas barang yang dikonsumsi, melakukan prakiraan permintaan kedepan; dan pemantauan ada tidaknya dominasi jenis barang atau pelaku perdagangan tertentu.

Kedua, Promosi Produk dan Promosi Perdagangan Dalam Negeri, melalui : promosi dengan berbagai media; promosi ke daerah atau propinsi lain; melibatkan pihak swasta dan masyarakat umum; memastikan kelancaran kegiatan distribusi dan Keterjagaan stok atau persediaan barang.  

 

Ketiga,  Kelancaran Logistik dan Arus BarangHal ini bisa dilakukan dengan cara memperhatikan “simpul-simpul perdagangan” atau pasar-pasar utama di masing-masing daerah; berkomunikasi dengan pelaku-pelaku perdagangan utama; dan berkomunikasi dengan pemasok, terutama untuk produk-produk kebutuhan pokok dari luar daerah.

 

Keempat, Revitalisasi Pasar Rakyat. Terkait hal ini, yang perlu dilakukan adalah redefinisi pemahaman tentang “pasar”. Menurut Gunaryo, pasar  dibedakan menjadi 2 , yaitu 1) Pasar Rakyat: pasar yang dimiliki oleh masyarakat adat, masyarakat desa, dan Pemda; 2) Pasar Swasta : pasar yang dimiliki oleh perorangan / perusahaan. Dengan kategorini ini, maka Pasar Rakyat atau Pasar Swasta dapat berbentuk: toko/kios/minimart / Midimart / Pasar Umum / Pasar Induk-Grosir / Supermarket / Hypermarket. Sementara itu, Pasar Rakyat atau Pasar dapat diposisikan sebagai pasar tradisional atau pasar modern. (AMF) 

Tags:

Album Foto